

NOV 28, 2025@11:00 WIB | 915 Views
Industri horor global kembali diramaikan oleh sebuah judul yang langsung mencuri perhatian sejak trailer pertamanya dirilis: The Carpenter’s Son. Film karya sutradara Lotfy Nathan ini membawa pendekatan horor spiritual yang kelam, penuh simbolisme, dan berani mengangkat ulang kisah religius dari sudut pandang yang tidak biasa.
Dengan atmosfer Timur Tengah era Romawi yang suram, film ini menawarkan pengalaman sinematik yang intens namun menggabungkan drama keluarga, ketegangan supranatural, dan konflik batin yang memuncak menjadi teror.
SINOPSIS: Ketika Anugerah dan Ancaman Sulit Dibedakan

Cerita berfokus pada sebuah keluarga sederhana: seorang tukang kayu (diperankan Nicolas Cage), istrinya (FKA twigs), dan seorang anak lelaki remaja yang mereka besarkan, dikenal hanya sebagai “The Boy” (Noah Jupe).
Sejak usia muda, The Boy mulai menunjukkan kemampuan di luar nalar. Dari kesembuhan ajaib hingga fenomena yang tidak dapat dijelaskan, kehadirannya menimbulkan kekaguman sekaligus kecemasan di antara warga desa.
Ketegangan meningkat ketika seorang anak asing misterius, “The Stranger” (Isla Johnston), hadir dan perlahan memengaruhi The Boy. Sosok ini membawa daya pikat gelap, mendorong The Boy menentang ajaran, batasan, dan bahkan otoritas ayahnya sendiri.

Ketika pengaruh tersebut tumbuh, desa yang damai mulai dihantui bencana supranatural seperti mimpi buruk, kecelakaan tragis, hingga kekerasan yang mengerikan. Sang tukang kayu pun harus menghadapi kenyataan bahwa keluarganya menjadi pusat sebuah konflik spiritual yang lebih besar daripada yang mampu ia pahami.
Deretan Pemeran Utama

Nicolas Cage sebagai sang tukang kayu—figur ayah pelindung, keras, namun menyimpan ketakutan mendalam.
FKA twigs sebagai ibu yang lembut dan penuh empati, mencoba menjaga keluarganya dari kehancuran.
Noah Jupe sebagai The Boy—remaja dengan kekuatan misterius, terombang-ambing antara takdir dan godaan gelap.
Isla Johnston sebagai The Stranger—sumber pengaruh yang memicu perubahan besar dalam diri The Boy.
Chemistry para pemain memegang peran penting, terutama hubungan ayah–anak yang menjadi pusat emosi film.
HOROR YANG MENEKANKAN ATMOSFER
Berbeda dari horor mainstream yang mengandalkan kejutan instan, The Carpenter’s Son mengusung horor atmosferik. Lanskap tandus, nuansa desa yang semakin tidak stabil, dan simbolisme religius menjadi fondasi visual yang kuat.
Film ini tetap menyuguhkan elemen gore dan kekerasan, namun digunakan secara terukur untuk mempertegas kondisi dunia yang sedang runtuh akibat konflik spiritual yang tidak terlihat.
KENAPA FILM INI LAYAK DIPERHATIKAN?
Pendekatan tematik yang berani, memadukan sejarah, mitologi, dan horor supranatural.
Performances solid dari Nicolas Cage dan Noah Jupe yang mendalami trauma karakter masing-masing.
Nuansa visual yang kuat, menekankan warna bumi dan atmosfer kelam yang mendominasi cerita.
Konflik moral yang relevan, menantang penonton mempertanyakan batas antara iman, kekuatan, dan kehendak bebas.
Film ini jelas tidak ditujukan untuk semua kalangan, terutama mereka yang sensitif terhadap interpretasi keagamaan. Namun bagi penikmat horor serius dan drama psikologis, The Carpenter’s Son menjadi salah satu rilisan yang paling dinantikan pada 2025. [Adi/TimBX]