MENU
icon label
image label
blacklogo

Adhitya Aji Pamungkas: Saorsa Indonesia

DEC 19, 2016@14:19 WIB | 577 Views

Kreativitas dapat ditemukan di mana saja, termasuk pada benda-benda tua atau yang rusak sekalipun. Hal inilah yang dilakukan oleh Adhitya Aji Pamungkas, yang memanfaatkan limbah kayu dan besi bekas menjadi kreativitas yang unik dan bernilai.

Pria yang akrab disapa Adhit ini awalnya merupakan seorang seniman tato, ia memiliki sebuah studio tato dan membuat sendiri standing lamp untuk studionya. Siapa sangka, buah karyanya ini banyak disukai. Awalnya hanya rekan-rekan sejawatnya saja namun lama kelamaan banyak pencinta furniture, khususnya dengan genre industrial yang juga tertarik dengan apa yang diciptakan oleh Adhit.

Adhit kemudian memutuskan untuk mendirikan Saorsa, yang dapat menjembatani permintaan konsumen dalam mendapatkan furnitur industrial namun dengan harga terjangkau. Saorsa sendiri diambil dari bahasa Irlandia kuno yang berarti "kebebasan". Adhit mengaku ia memang lebih suka mengeksplor sebebas-bebasnya apa yang ia inginkan dalam hasil karyanya. Namun belakangan ini, nama Saorsa ditambahkan menjadi Saorsa Indonesia, sehingga walaupun bebas, desain-desain yang dihasilkan Saorsa selalu sejalur dengan norma Indonesia.

Di Saorsa, konsumen dapat membawa sendiri desain yang ia inginkan. Namun tetap saja dalam pengerjaannya, Adhit akan mengeksplor dan menambahkan unsur industrial agar furnitur tersebut tetap memiliki ciri khas yang dimiliki Saorsa. Keterbatasan materi yang kerap dialami oleh Saorsa jugalah yang menuntut Adhit dan timnya untuk selalu menelurkan ide-ide baru dengan bahan seadanya.

Ya, pastinya akan selalu ada hambatan dalam setiap usaha yang kita jalani. Adhit dan Saorsapun tak luput dari hal tersebut. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, keterbatasan materi menjadi hambatan yang sering dijumpai. Saat ini, untuk mendapatkan bahan kayu jati yang memang sudah rusak dari pohonnya sangat sulit, karena kayu jati saat ini sudah dilindungi dan diperhatikan betul pertumbuhannya.

Keterbatasan materi menjadi salah satu faktor utama yang menentukan harga furnitur olahan Saorsa. Semakin sulit bahan itu didapatkan dan semakin sulit pengerjaannya, maka furnitur tersebut akan semakin bernilai tinggi. Misalnya lampu yang dirangkai dalam pipa besi, pengerjaannya sangat rumit, salah sedikit bisa-bisa terjadi korslet.

Namun tetap yang menjadi sorotan utama bagi Adhit ialah pemanfaatan barang bekas untuk mendapat autentisitas dari furnitur yang diproduksinya. Bahan baku untuk setiap produk yang dihasilkan Saorsa berasal dari pengusaha barang bekas, pabrik besar untuk besi, dan juga supplier kayu-kayu tua yang berasal dari Garut.

Tentang kreativitas, Adhit mempunyai pandangannya sendiri, ia memaparkan apa arti kreativitas bagi dirinya "Simple aja, kadang orang terlalu memaksakan apa yang ada di otaknya. Basic-nya sih don’t push your brain. Apa yang lo suka, bikin!"
"Kreatif dan inovatif itu mengembangkan apa yang sudah ada. Enggak usah muluk-muluk, ‘gue harus bikin apa yang orang lain belum bikin’. Kembangin aja apa yang sudah ada, yang penting diwujudkan, selesai," tuturnya kepada tim BlackXperience.

Saat ini, Adhit dan Saorsa sendiri mulai merambah ke dunia mainan anak-anak. Adhit berkeinginan untuk dapat membuat mainan anak seperti Lego namun menggunakan bahan yang lebih aman dan pastinya lebih terjangkau. Adhit juga menginginkan agar generasi muda bisa terus berkreasi dan tidak takut untuk memulai usahanya sendiri.

"Yang terpenting buat anak muda sih ya itu, satu: jangan pernah takut, dua: don’t push your brain, dan ketiga: habit itu emang sulit diubah, tapi sulit bukan berarti nggak bisa diubah. Jadi mulailah membangun kreativitas lo sendiri," pungkasnya. [Clo/timBX]