

APR 13, 2026@18:35 WIB | 52 Views
Dinamika industri otomotif menjadi sorotan tajam, ketika negara kesulitan dalam memenuhi kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) dalam stok yang aman, menjadi jalan penting penetrasi mobil-mobil elektrik mulai mengisi ruang-ruang kekhawatiran konsumen passenger car di Indonesia.
Meskipun pemerintah menegaskan bahwa harga BBM tetap ‘tidak bakal naik’ hingga akhir 2026, masyarakat mulai mempersiapkan diri dengan meminang mobil-mobil listrik yang cukup ramai diperbutkan oleh brand Cina di Indonesia.
Nah Black Pals, jumlah penjualan mobil listrik tahun 2025 saja sudah mendapatkan porsi 12,9% dari total penjualan 803.687 unit, jika dikalkulasi 12,9% setara dengan 103.931 unit.
Dari jumlah tersebut, 3 merek yang mendominasi antara lain BYD (46.711 unit), Wuling dengan (12.710 unit) dan pendatang baru VinFast (10.886 unit). Puncaknya pada akhir Desember 2025 lalu, penjualan unit BEV (baterai electric vehicle)

Sementara kuartal I 2026 ini pertumbuhan mobil listrik (BEV) juga terlihat positif. Bahkan lonjakan cukup signifikan. Padahal yang perlu kita catat, line up mobil listrik pada tahun 2026 belum mendapatkan insentif sama sekali dari pemerintah. Artinya harga line up mobil listrik masih ada yang sudah naik, disisi lain ada yang mempertahankan harga lama. Namun pertumbuhan mobil listrik, cukup real.
Data Gaikindo Maret 2026, mencatat penjualan mabil listrik mencapai 33.150 unit. Naik sekitar 95,9% bila dibandingkan pada periode yang sama kuartal I tahun 2025 sebesar 16.926 unit.
Kenaikan penjualan mobil listrik, cukup mendorong kontribusi kendaraan listrik terhadap total penjualan otomotif nasional. Dari posisi kuartal I tahun 2025 diposisi 8,2% menjadi 15,9% pada tahun 2026 dengan jumlah 209.021 unit. Adopsi kendaraan ramah lingkungan di pasar domestik memang terjadi percepatan hampir 90%.

Selain pertumbuhan BEV, kendaraan HEV (hybrid) mencatat pertumbuhan positif dengan kenaikan penjualan 21,3% menjadi 16.940 unit dari sebelumnya 13.964 unit. Mobil hybrid di Indonesia juga terkerek naik dari jumlahnya 6,8% menjadi 8,1 %.
Kinerja secara wholesales triwulan I 2026, BYD menguasai penjualan Januari 4.879, Februari 4.653 unit dan Maret 2.941 unit. Kemudian disusul oleh Jaecoo berhasil naik signifikan, dari Januari 2.025 unit, Februari 3.005 unit, Maret 3.035 unit. Yang membedakan dari komposisp BYD dan Jaecoo, angka penjualan BYD dari berbagai line up, seperti BYD Atto 3, Atto 1, Dolphin, Sealion 7, dan Seal. Sementara Jaecoo hanya disumbang dari satu varian J5.
Menurut Head of Marketing Jaecoo Indonesia Mi Ilham Pratama, mengungkapkan, salah satu keberhasilan Jaecoo adalah mempertahankan demand yang banyak dengan lokasi produksi di dua tempat. "Ada waktu tunggu yang begitu lama saat itu, sehingga managemen menambahkan fasilitas produksi, awalnya hanya Handal Motor, ditambahkan di Inchcape. Penambahan kapasitas produksi ini tentunya untuk mempercepat distribusi. Untuk unit J5 sekarang waktu tunggunya tinggal 1 bulan. Sementara untuk luar jawa butuh tambahan beberapa hari lagi,” imbuhnya.[Ahs/timBX]