MENU
icon label
image label
blacklogo

Alinka Hardianti: Pebalap Wanita Indonesia

FEB 01, 2017@15:39 WIB | 2,032 Views

Profesi pebalap mungkin sudah sering kita jumpai. Sebutlah nama-nama besar seperti Lewis Hamilton, Nico Rosberg, Daigo Saito atau yang berasal dari dalam negeri seperti Rio Haryanto, Sean Gelael dan masih banyak lagi. Namun, tentu kita masih asing dengan profesi pebalap yang dilakoni oleh kaum hawa. Ialah Alinka Hardianti, dara cantik kelahiran 21 Juni 1992 silam itu telah menjajal profesi sebagai seorang pembalap sejak ia masih dalam usia 13 tahun.

Alinka memang terlahir di tengah-tengah keluarga yang berkecimpung di dunia balap. Ayahnya sendiri-pun juga merupakan seorang pebalap. Sejak kecil, Alinka sudah sering diajak oleh ayahnya melanglang buana dari satu sirkuit ke sirkuit lain. Hal inilah juga yang menimbulkan kecintaan Alinka pada dunia otomotif khususnya di dunia balap. Alinka bahkan mengaku sudah mulai belajar menyetir mobil ketika dirinya masih duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar.

Saat ini Alinka tengah mendalami 4 cabang balap yaitu slalom, drifting, touring dan speedoffroad. Ia sendiri mulai bergabung dengan Toyota Team Indonesia (TTI) sejak tahun 2008 hingga saat ini. Slalom merupakan bidang balap pertama yang diterjuni oleh Alinka. Namun Alinka membocorkan bahwa ia lebih mencintai bidang drifting. Hal ini disebabkan karena lewat drifting, Alinka tak hanya merasakan kegiatan olahraga, di sini ia bisa mendapatkan sensasi lain seperti menghibur para penonton lewat aksi-aksi dan kebolehannya menunjukkan style drifting-nya.

Sudah 12 tahun terjun di dunia balap, tentu sudah banyak prestasi yang Alinka torehkan sepanjang perjalanan karirnya ini. Ia pernah menempati posisi pertama saat kejuaraan nasional slalom di Lampung dan di Bandung. Ia bahkan menjadi satu-satunya drifter wanita yang lolos kualifikasi saat Formula Drift Asian 2011. Namun yang lebih membanggakan bagi Alinka ialah, ia bisa mengikuti kompetisi balap bidang touring di Jepang dengan membawa bendera Toyota Team Indonesia.

Profesi yang terbilang cukup asing dijalankan bagi kaum hawa ini memang menjadi daya tarik tersendiri bagi Alinka. Ia melihat di luar negeri pebalap bisa dijadikan profesi yang serius bagi sebagian orang, lalu mengapa ia tidak bisa melakukan hal serupa? Hal inilah yang mendorong dara manis ini untuk terus mendalami profesi sebagai seorang pebalap. Passion menjadi hal utama yang harus ia lakukan dan kejar dalam hidupnya.

“Seiring berjalannya waktu, dari yang awalnya cuma iseng-iseng dan sekedar hobi lama-lama yah aku ngerasa passion aku tuh emang di dunia balap ini. Banyak orang yang bilang juga kan do what you love, and love what you do, dan inilah yang aku suka jadi aku mau puas-puasin dulu mengemban profesi sebagai pembalap ini.” Tuturnya saat diwawancara oleh tim BlackXperince.

Tak jarang ia mendapatkan cibiran dan pandangan sebelah mata akan profesinya ini. Stigma masyarakat tentang bagaimana perempuan seharusnya berada di rumah saja mengurus keperluan rumah tangga dapat terbantahkan dengan apa yang Alinka hasilkan lewat prestasinya di bidang balap. Cibiran-cibiran ini jugalah yang memotivasi dirinya untuk dapat selalu melakukan lebih.

“Memang banyak omongan-omongan jelek tentang profesi aku. Tapi ini semua balik lagi ke aku sendiri sih, ini jadi motivasi aku buat nunjukin “gue emang bisa menang kok bukan karena hoki atau apapun tapi karena emang skill gue dan tim gue yang ok” hal inilah yang bisa bungkam omongan-omongan jelek dari orang” tukasnya bersemangat.

Niat yang bersungguh-sungguh dari dalam hati merupakan hal penting yang harus dimiliki setiap orang untuk dapat maju sesuai dengan passion-nya. Menurut Alinka, segala sesuatu yang didasari dengan niat yang mendalam pasti akan menemukan jalan untuk mewujudkan semua yang dicita-citakan. Selain itu motivasi untuk dapat membenahi diri juga menjadi hal yang harus diperhatikan jika kita ingin mewujudkan impian kita.

Alinka juga mengungkapkan pandangannya terhadap dunia balap Indonesia kepada tim BlackXperience. Menurutnya saat ini dunia balap masih kurang mendapat perhatian khususnya dari pemerintah. Sirkuit yang ada belum memenuhi kualifikasi yang dibutuhkan, seperti aspalnya yang sangat cepat merusak ban atau fasilitas-fasilitas lain yang belum memenuhi kebutuhan pembalap.

Kurangnya apresiasi dari masyarakat terhadap dunia balap juga menjadi keluhan tersendiri bagi Alinka. Animo masyarakat sangat amat kurang terhadap event balap, khususnya di kota-kota besar. Padahal apresiasi dari pemerintah dan masyarakat dapat menjadi dukungan dan motivasi tersendiri bagi para atlet untuk terus menorehkan prestasi mereka yang juga dapat mengharumkan nama bangsa.

Alinka berharap untuk ke depannya, pemerintah dapat lebih aware terhadap kehidupan para atlet. Dukungan-dukungan jangan hanya tersalurkan pada pembalap yang akan berangkat ke event internasional. Tapi juga perhatikan pembalap yang masih berjuang di dalam negeri. Dengan begitu, para pembalap ini sendiri akan merasa dihargai dan akan lebih terpacu untuk meraih prestasi di dunia ini. [Clo/timBX]