

JUL 02, 2026@12:00 WIB | 62 Views

Di tengah gempuran mobil matik yang makin mendominasi jalanan, mobil manual ternyata masih punya satu keunggulan yang nggak bisa dianggap remeh.
Bukan cuma soal sensasi berkendara yang lebih seru, tapi juga manfaatnya buat kesehatan otak.
Sebuah penelitian terbaru dari Jepang mengungkap bahwa mengemudikan mobil bertransmisi manual dapat memberikan stimulasi lebih besar pada otak dibanding mobil otomatis.
Aktivitas sederhana seperti menginjak kopling, memindahkan gigi, dan mengatur putaran mesin ternyata membuat otak bekerja lebih aktif selama perjalanan.
Otak Dipaksa Aktif Saat Nyetir Manual
Penelitian ini dipimpin oleh Profesor Ryuta Kawashima dari Tohoku University's Institute of Development, Aging, and Cancer, Jepang.
Nama Kawashima sendiri sudah cukup dikenal di dunia neuroscience karena merupakan sosok di balik konsep game Brain Age milik Nintendo.

Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa saat seseorang mengemudikan mobil manual, bagian prefrontal cortex di otak menunjukkan aktivitas yang lebih tinggi dibanding ketika mengendarai mobil otomatis.
Prefrontal cortex merupakan bagian otak yang berperan penting dalam berbagai fungsi kognitif, seperti:

Dengan kata lain, setiap kali pengemudi mengoperasikan mobil manual, otaknya ikut "berolahraga".
Bukan Cuma Oper Gigi, Tapi Melatih Otak
Kalau dipikir-pikir, hasil penelitian ini memang masuk akal.
Saat mengemudi mobil manual, pengemudi harus terus memperhatikan kondisi jalan sambil menentukan kapan waktu yang tepat untuk memindahkan gigi.
Di saat yang sama, kaki kiri menginjak kopling, kaki kanan mengatur gas, tangan memindahkan tuas transmisi, lalu semuanya harus dilakukan dengan timing yang pas agar mobil tetap berjalan mulus.Semua proses tersebut terjadi dalam hitungan detik dan dilakukan berkali-kali sepanjang perjalanan.
Aktivitas inilah yang membuat berbagai bagian otak bekerja secara bersamaan, sehingga memberikan stimulasi yang lebih besar dibanding mengemudi mobil otomatis.
Berpotensi Menjaga Fungsi Kognitif
Menurut hasil penelitian tersebut, aktivitas mengemudi yang melibatkan koordinasi kompleks dipercaya mampu membantu menjaga fungsi kognitif, terutama pada masyarakat yang memasuki usia lanjut.
Sementara itu, mobil otomatis maupun kendaraan semi-otonom membuat pengemudi tidak lagi melakukan banyak koordinasi fisik karena sebagian tugas sudah dibantu sistem kendaraan.

Meski demikian, bukan berarti mobil matik buruk. Penelitian ini hanya menunjukkan bahwa mobil manual memberikan tantangan mental yang lebih tinggi sehingga mampu merangsang aktivitas otak secara lebih intens.
Ironisnya, Mobil Manual Justru Makin Langka
Menariknya, hasil studi ini muncul ketika mobil manual justru semakin sulit ditemukan di berbagai negara.
Di Jepang sendiri, mobil manual kini hanya menyumbang sekitar 1-2 persen dari total penjualan mobil baru. Mayoritas konsumen sudah beralih ke transmisi otomatis karena dianggap lebih praktis dan nyaman digunakan sehari-hari.

Di Jepang sekalipun mobil-mobil manual yang masih bertahan umumnya berasal dari segmen kei car atau kendaraan niaga ringan seperti Honda N-Van, Daihatsu Hijet, Suzuki Carry, dan Suzuki Every.
Sementara model populer seperti Toyota Corolla dan Honda Civic di Jepang kini hanya tersedia dengan transmisi CVT karena menggunakan sistem hybrid.
Kalau di Indonesia Gimana?
Kondisinya ternyata nggak jauh berbeda. Dalam beberapa tahun terakhir, pilihan mobil baru bertransmisi manual di Indonesia juga terus menyusut.
Banyak pabrikan mulai menghentikan varian manual karena mayoritas konsumen lebih memilih transmisi otomatis yang lebih nyaman untuk menghadapi kemacetan di kota-kota besar.
Meski begitu, sampai saat ini masih ada cukup banyak mobil baru yang mempertahankan transmisi manual.

Di segmen Low MPV, misalnya, Toyota Avanza, Daihatsu Xenia, Suzuki Ertiga, dan Mitsubishi Xpander masih menawarkan varian manual sebagai pilihan dengan harga yang lebih terjangkau.
Masuk ke kelas LSUV, pilihan manual juga masih tersedia pada Toyota Rush, Daihatsu Terios, Suzuki XL7, dan Honda BR-V, meski penjualannya kini lebih didominasi varian otomatis.
Kalau mencari mobil perkotaan, beberapa model seperti Honda Brio Satya, Honda Brio RS, Toyota Agya, Toyota Calya, dan Daihatsu Sigra juga masih bisa dibeli dengan transmisi manual.
Sementara untuk penggemar performa, Toyota GR Yaris menjadi salah satu mobil sport yang tetap mempertahankan transmisi manual demi menghadirkan sensasi berkendara yang lebih murni.
Berbeda dengan mobil penumpang, segmen kendaraan niaga justru masih mengandalkan transmisi manual. Mobil seperti Suzuki Carry Pick Up, Daihatsu Gran Max, Mitsubishi L300, Toyota Hilux, hingga Isuzu Traga masih menjadikan transmisi manual sebagai pilihan utama karena terkenal tangguh, mudah dirawat, dan efisien untuk kebutuhan usaha.

Melihat tren yang ada, bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan mobil manual akan semakin langka. Seiring berkembangnya teknologi elektrifikasi dan sistem transmisi otomatis, pilihan mobil manual diprediksi bakal terus berkurang.
Masih Punya Mobil Manual? Jangan Keburu Dijual
Buat para pecinta mobil manual, hasil penelitian ini tentu menjadi kabar yang cukup menarik. Selama ini mobil manual dikenal menawarkan sensasi berkendara yang lebih menyenangkan karena pengemudi benar-benar terlibat dalam setiap proses mengemudi.
Kini ada satu alasan tambahan untuk tetap mencintai transmisi manual. Selain lebih engaging dan bikin pengalaman berkendara terasa hidup, mobil manual juga berpotensi memberikan stimulasi positif bagi otak melalui koordinasi, konsentrasi, serta kemampuan mengambil keputusan secara cepat.
Tentu saja, penelitian ini bukan berarti semua orang harus meninggalkan mobil matik dan beralih ke mobil manual. Namun, temuan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas mengemudi yang lebih kompleks dapat memberikan manfaat tambahan bagi fungsi kognitif.
Jadi, kalau kamu masih punya mobil manual di garasi, mungkin sekarang alasan untuk tetap merawatnya bukan cuma karena hobi atau nostalgia. Bisa jadi, setiap kali menginjak kopling dan memindahkan gigi, kamu juga sedang memberi "latihan ringan" buat otak.
[ziz/timbx/berbagaisumber].