MENU
icon label
image label
blacklogo

Permintaan Mobil Listrik Meningkat?

MAR 27, 2026@19:00 WIB | 16 Views

Efek Harga BBM Naik Tajam Permintaan Mobil Listrik Banyak

Dunia otomotif global sedang tidak baik-baik saja. Bukan karena debut supercar baru atau gebrakan pabrikan besar, melainkan gara-gara satu hal yang langsung terasa di kantong: harga bahan bakar yang kembali meroket. Imbas ketegangan di Timur Tengah, banyak konsumen kini mulai melirik kendaraan listrik sebagai alternatif yang lebih hemat dan lebih masuk akal untuk jangka panjang.

Efek Domino dari Konflik Global ke Pom Bensin

Kenaikan harga minyak mentah dunia bukan lagi sekadar urusan pasar komoditas. Dampaknya sudah sampai ke SPBU dan terasa langsung oleh para pengendara. Di Australia, misalnya, harga bensin oktan 91 yang sebelumnya berada di kisaran 219,5 sen per liter kini melonjak menjadi 238 sen per liter.

Tak berhenti di situ, harga diesel dan bensin premium di sejumlah wilayah bahkan sudah menembus angka psikologis 3 dolar per liter. Situasi ini membuat banyak pengendara mulai berpikir ulang: tetap bertahan dengan mobil berbahan bakar fosil, atau mulai beralih ke kendaraan listrik?

Skoda Australia Akui Minat EV Naik

Lucie Kuhn, Direktur Skoda Australia, mengonfirmasi adanya peningkatan minat terhadap mobil listrik sejak konflik di Timur Tengah memicu lonjakan harga BBM. Namun, ia juga menegaskan bahwa minat tinggi belum tentu langsung berujung pada pembelian.

“Kami melihat adanya peningkatan minat yang nyata. Namun, apakah minat ini akan bertahan lama, masih sulit diprediksi,” ujar Kuhn kepada Drive. Ia menambahkan bahwa ketegangan geopolitik memang memberi dampak langsung terhadap ketertarikan pasar Australia pada mobil listrik.

Menurutnya, membeli EV bukan sekadar mengganti mobil, tetapi juga soal perubahan gaya hidup. Konsumen masih mempertimbangkan banyak hal, mulai dari harga, infrastruktur pengisian daya, hingga kegunaan untuk kebutuhan sehari-hari.

Pencarian Mobil Listrik Meledak

Meski pembelian nyata belum sepenuhnya melonjak, data digital menunjukkan tren yang sangat jelas. Dua lembaga otomotif di Australia mencatat kenaikan signifikan dalam pencarian mobil listrik:

Pickles, platform lelang kendaraan, mencatat volume pencarian mobil listrik naik 111 persen hanya dalam tiga minggu terakhir. RACV bahkan melaporkan lonjakan pencarian EV hingga 190 persen. Angka tersebut menunjukkan satu hal kalau masyarakat mulai serius mencari alternatif dari ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Tesla Masih Jadi Motor Utama Pasar EV

Sebelum efek kenaikan harga BBM semakin terasa, pasar mobil listrik memang sudah menunjukkan tren positif. Pada Februari 2026, penjualan EV tercatat naik 95,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Salah satu pendorong utamanya adalah stabilnya pasokan unit Tesla, setelah sebelumnya sempat terganggu di awal tahun.

Data penjualan resmi untuk Maret 2026 yang akan dirilis awal April nanti bakal jadi penentu penting. Dari sana, baru akan terlihat seberapa besar pengaruh lonjakan harga BBM terhadap keputusan konsumen untuk benar-benar pindah ke mobil listrik.

Transisi ke mobil listrik memang tidak terjadi dalam semalam. Tapi ketika harga BBM terus naik dan ketidakpastian masih membayangi, tekanan pasar seperti ini bisa jadi katalis paling kuat untuk mempercepat era elektrifikasi. Sedangkan Indonesia, ketergantungan akan BBM sendiri masih dominan oleh pengguna kendaraan pribadi dan angkutan berbasis aplikasi atau Ojek Online. Lantas, penetrasi pasar ke motor listrik pun apakah berhasil. Atau malah sebaliknya, malah kita yang beneran bisa kena krisis BBM?

Tags :

#
byd,
#
mobil listrik