MENU
icon label
image label
blacklogo

Stephen Khrisna Lucas, Voyej

SEP 19, 2016@14:00 WIB | 1,780 Views

Kala itu, Voyej dan beberapa brand lainnya tengah membuka toko baru bernama STOW. Sebenarnya, toko ini merupakan toko pindahan setelah tutup sementara pada Juni 2016 silam. Masih berlokasi di daerah Jakarta Selatan, tepatnya di Cipete Raya IX Nomor 1, Voyej dan rekan bisnis lainnya kini memiliki ruang yang cukup lega dan dibalut dengan konsep yang lebih segar.

Voyej adalah brand yang memproduksi beberapa barang serta aksesoris khusus pria. Dengan menggunakan kulit nabati sebagai bahan dasarnya, bisnis Voyej saat ini sudah merambah ke beberapa negara di luar Indonesia. Adalah Stepehen Khrisna Lucassang penggagas bisnis ini. Ia kemudian merintis Voyej bersama empat kawan lainnya, yaitu Aradea Respati, Ivan Ariwibiwo, Oktavianus Andika dan Yossi Permana Putra. Awalnya, lima rekanan ini memulai produksinya pada tahun 2010 sebagai tugas akhir kuliah.

Namun siapa sangka jika akhirnya Voyej menjadi bisnis yang berkembang pesat setelah pada rilis ke publik pada Februari 2011. Ide Lucas untuk menciptakan Voyej muncul ketika ia aktif dalam sebuah komunitas pecinta denim. Menurutnya, pecinta denim akan menyukai produk dengan bahan dasar kulit. “Waktu itu hanya ada satu produsennya, tapi masih banyak celah juga.”

Ya, bahan dasar produk Voyej adalah kulit sapi dengan tipe vegetable tanned leather (kulit nabati). Namun kulit nabati di sini bukan berarti kulit dari tumbuh-tumbuhan maupun seratnya. Voyej tetap menggunakan kulit sapi impor dari Amerika Serikat. Hanya saja, cara pengolahan produk berbeda yakni ditambahkan ekstrak tumbuhan sehingga tidak membahayakan penggunanya.

Produk Voyej juga memiliki kekhasan tersendiri, yakni warna yang natural. Namun uniknya, warna akan berubah menjadi cokelat gelap seiring dengan pemakaian dan perawatannya. Perubahan warna ini tergantung pada kebiasaan si pemilik. Di sinilah Voyej mendapatkan inspirasinya. A man's passion on journey.

Sebanyak 70 persen proses produksi merupakan sentuhan dari tangan pengrajin yang handal. Itu sebabnya Voyej begitu eksklusif. Namun desain tetap datang dari para penggagas di Jakarta dan kemudian berlanjut ke pembuatan sampling, potong pola, penghalusan bagian pinggir, membuat lubang untuk jahit, lem, hingga finishing.

“Hingga saat ini sih, Voyej belum mau main ke kuliat exotic (kulit ular, buaya-red). Belum ada ketertarikan juga. Namun bukan tidak mungkin Voyej pakai kulit itu agar lebih premium,” kata Lucas kepada tim Blackxperience.com. Voyej beberapa kali juga pernah bermain di model gothic, yakni dengan warna hitam gelap dan abu-abu. Ini memang sesuai dengan ide yang diungkap Lucas bahwa sebuah brand harus tetap mengikuti tren yang ada.

“Aku masih inget kata-kata temenku bahwa kita boleh punya idealisme, tapi kita harus tetap mengikut tren yang ada. Idealis boleh, tapi tren tetep jalan,” kata Lucas lagi. Tapi sayangnya, Voyej seringkali terkendala dengan birokrasi di Indonesia. Bagaimana tidak, kulit yang diimpor harus melalui birokrasi yang rumit.

Namun bagaimanapun, Voyej tetap akan berkarya untuk menghasilkan produk lokal yang berkualitas. “Bagiamana sebuah brand bisa dengan sedemikian rupa strateginya menciptakan brand awarness dan personification agar sampai ke hati customer, menurut aku itu yang dinamakan kreatif. Kalau inovatif enggak jauh beda, harus tetap ikut tren,” tutur Lucas. (Din/TimBX)

RELATED ARTICLE