MENU
icon label
image label
blacklogo

Tesla Kasih Full Self Driving Tapi Tidak Laku?

NOV 29, 2025@20:00 WIB | 51 Views

Ternyata Tidak Semua Produsen Pede dengan FSD Tesla

Teknologi semi-otonom Tesla, Full Self-Driving (FSD), kembali jadi sorotan. Bukan karena fitur baru, melainkan karena kabar bahwa calon pelanggan terbesarnya yaitu para pabrikan mobil lain ternyata tidak tertarik untuk memakai sistem tersebut.

Padahal, CEO Tesla Elon Musk sudah membuka opsi lisensi FSD selama bertahun-tahun. Namun sejauh ini, tak satu pun produsen otomotif global yang benar-benar deal.

Ada minat tapi ya kemahalan

Musk pertama kali menawarkan lisensi FSD sekitar lima tahun lalu. Pada 2023, ia bahkan sempat mengatakan bahwa satu merek besar tertarik untuk bekerja sama. Rumornya saat itu mengarah ke Ford, meski brand tersebut sudah punya teknologi serupa bernama BlueCruise.

Sayangnya, ketertarikan itu tidak berkembang menjadi kerja sama resmi antar mereka berdua. Situasi serupa kembali terjadi pada 2024, ketika Elon klaim sedang berdiskusi dengan satu pabrikan besar lainnya. Namun sampai sekarang, tidak ada pengumuman publik terkait kolaborasi tersebut.

Baru-baru ini Elon Musk mengeluh di media sosial X, mengatakan “Saya sudah menawarkan FSD ke pabrikan lain, tapi mereka nggak mau!”

Ia bahkan menyebut brand-brand tersebut hanya membahas proyek kecil untuk lima tahun mendatang dengan syarat yang tidak realistis bagi Tesla, sehingga menurutnya “tidak ada gunanya”.

Kontroversi Jadi Penghalang?

FSD bukan sekadar teknologi saja, ia membawa kontroversi sejak awal.

Tesla memilih jalur pengembangan yang tidak lazim sama sekali. Mereka  coba versi beta di jalan umum lewat para pemilik mobil Tesla sendiri. Hasilnya, platform seperti YouTube, TikTok, dan X dipenuhi video FSD yang salah membaca situasi, melakukan manuver berbahaya, hingga kejadian nyaris celaka.

Gara-gara exposure yang terlalu besar ini membuat pabrikan lain berpikir ulang. Selain soal kualitas teknologi, mereka juga mempertimbangkan risiko hukum dan keselamatan jika FSD bermasalah di kendaraan mereka.

Sementara Tesla mendorong FSD untuk bisa bekerja di jalan kota, permukiman, hingga pedesaan, rival-rivalnya cenderung lebih konservatif. Ford BlueCruise dan GM Super Cruise misalnya, hanya berfungsi di jalan raya dengan marka jelas. Stellantis AutoDrive pun masih dalam tahap pengembangan dan belum mereka rilis untuk publik.

Tekanan dari produsen Tiongkok Semakin Kencang

Menariknya, saingan terbesar Tesla justru datang dari Cina. Banyak brand China kini menawarkan teknologi berkendara semi-otonom yang setara bahkan lebih matang, bekerja melalui sistem navigasi dan mampu meng-handle berbagai kondisi tanpa masukan pengemudi.

Dengan kemajuan pesat tersebut, pabrikan global mungkin melihat lebih banyak keuntungan dalam mengembangkan teknologi sendiri daripada menggunakan FSD.

Tesla Punya Teknologi, Tapi Kepercayaan Belum Mengikuti

Meskipun FSD termasuk salah satu sistem semi-otonom paling ambisius saat ini, pendekatan Tesla—terutama penggunaan publik sebagai “beta tester” tampaknya membuat merek lain ragu untuk mengadopsinya. Kombinasi faktor reputasi, risiko, dan strategi teknologi masing-masing membuat penawaran lisensi FSD belum mendapatkan sambutan.

Bagi Tesla, tantangannya kini bukan hanya menyempurnakan teknologi, tetapi juga mengembalikan kepercayaan industri agar FSD diakui aman dan layak digunakan secara luas. [Adi/TimBX]

Tags :

#
tesla,
#
fsd

X