

MAR 21, 2026@14:00 WIB | 100 Views
Renault 5 EV sebenarnya adalah paket lengkap bagi para petrolhead yang ingin beralih ke listrik tanpa kehilangan jiwa retro-cool. Desainnya yang membangkitkan memori era 70-an dan 80-an sukses membuat publik Eropa jatuh cinta. Namun, bagi para penggemar di Australia, penantian ini sepertinya akan berakhir dengan kekecewaan.
Bukan karena mesinnya yang loyo atau baterainya yang kurang awet, melainkan karena detail teknis pada jok belakang dan tombol airbag yang dianggap "ilegal" menurut standar keamanan setempat.
Standar Australia Sangat Ketat Soal Keselamatan
Masalah utama muncul dari Australian Design Rules (ADRs). Australia memiliki mandat ketat bahwa setiap posisi duduk di baris belakang yang memiliki sabuk pengaman wajib dilengkapi dengan top-tether anchor point untuk kursi bayi. Dimana ini sudah jadi standar utama bagi kendaraan yang akan dijual di Australia. Apapun itu dan juga bentuknya kaya apapun modelnya.
Renault 5, yang didesain mengikuti standar Eropa, tidak memiliki fitur ini pada kursi tengahnya. Di Eropa, hal ini bukan masalah, namun di Australia, ini adalah harga mati. Pihak Renault Australia melalui General Manager-nya, Glen Sealey, menyebutkan bahwa untuk memodifikasi struktur jok belakang saja membutuhkan biaya riset dan produksi hingga 3 juta Euro (sekitar Rp51 miliar). Angka yang sangat sulit dibenarkan secara bisnis untuk pasar yang volume penjualan hatchback-nya tergolong kecil.
Dilema Tombol Airbag
Tak hanya soal jok, fitur kepraktisan di Eropa justru jadi bumerang di Australia. Renault 5 memiliki tombol one-touch untuk menonaktifkan airbag penumpang depan. Sebuah fitur yang sangat berguna di Eropa agar pengguna bisa meletakkan kursi bayi di kursi depan. Sayangnya, mekanisme ini tidak sesuai dengan regulasi Australia.
Beberapa pabrikan lain seperti Honda menyiasati aturan jok belakang dengan mencopot sabuk pengaman tengah (mengubah mobil menjadi 4-seater). Namun, bagi Renault, langkah ini dianggap bisa menurunkan nilai saing mobil tersebut di pasar yang sudah sangat kompetitif.
Isu "Harmonisasi Global" yang Mandek
Keresahan ini sebenarnya bukan hanya milik Renault. Mantan CEO Mitsubishi Australia, Shaun Westcott, pernah melontarkan kritik pedas terhadap aturan ADR yang terlalu spesifik. Menurutnya, jika sebuah standar keamanan sudah dianggap layak untuk pasar sebesar Amerika Serikat, Jepang, atau Eropa, mengapa Australia harus memiliki aturan sendiri yang justru membebani konsumen dengan harga lebih mahal dan pilihan mobil yang lebih sedikit.
Untuk saat ini, jawabannya adalah "tunggu dulu." Renault Australia saat ini masih fokus pada model yang sudah ada seperti Megane E-Tech dan Scenic E-Tech. Pintu bagi Renault 5 akan terbuka lebar hanya jika dua hal terjadi.
Pertama, Pemerintah Australia melakukan harmonisasi regulasi dengan standar global. Kemudian, Penetrasi kendaraan listrik (EV) di Australia melonjak drastis hingga mencapai 40%, sehingga biaya modifikasi teknis tersebut menjadi masuk akal secara profit. [Adi/TimBX]