MENU
icon label
image label
blacklogo

Menguak Perjalanan Sang SUV Toyota [Bag.2]

JUL 24, 2020@16:00 WIB | 950 Views

Memasuki tahun 1970an, kondisi perekonomian Indonesia mulai stabil dan bahkan terus tumbuh. Kala itu, mobil mulai banyak dimiliki oleh masyarakat Indonesia, namun hanya oleh kalangan terbatas. Hal ini terkait dengan 2 faktor utama yaitu kemampuan ekonomi yang belum merata dan ketersediaan jalan yang masih terbatas di kota besar, seperti Jakarta dimana mobil berbasis sedan menjadi pilihan mayoritas masyarakat.

Di sisi lain, masyarakat yang tinggal di luar kota besar memiliki kebutuhan terhadap kendaraaan yang berbeda. Kondisi geografis yang sangat beragam dan menantang di banyak wilayah membuat masyarakat mencari alternatif jenis kendaraan yang dapat diandalkan dalam mendukung kegiatan mobilitas sehari-hari. Untuk menjawab kebutuhan ini, maka pada tahun 1975 Toyota untuk pertama kalinya memperkenalkan jenis kendaraan SUV kepada masyarakat Indonesia melalui Land Cruiser dengan seri-40 atau FJ40 dengan 2 pilihan model disodorkan, versi soft top dengan atap kanvas dan hard top dengan atap baja. Uniknya, di Indonesia Land Cruiser FJ40 memiliki nama atau julukan sendiri yang membuat pamornya memuncak yaitu Toyota Hardtop.

Ketangguhan Hardtop di berbagai kondisi jalan mampu membuat banyak kalangan terpikat. Mulai dari instansi pemerintah seperti militer dan kepolisian, birokrat, hingga pengusaha yang sedang membuka lahan di wilayah bermedan off-road tertarik dengan kemampuan yang ditawarkan oleh Hardtop. Bahkan, keperkasaan FJ40 dalam melahap segala medan jalan masih dapat dilihat dan dibuktikan langsung hingga sekarang. Jika Anda bertamasya ke kawasan Gunung Bromo di Jawa Timur, FJ40 masih dipakai untuk mengantarkan wisatawan yang berkunjung. 

Pada tahun 1995, Toyota Land Cruiser kembali hadir di Indonesia. Tidak lagi bergaya tradisional, Land Cruiser dengan seri-80 tampil sebagai SUV mewah dan modern dengan fitur off-road mumpuni. Bodi tinggi, besar, dan gagah, berpadu apik dengan kabin nyaman dan berkelas hingga mesin diesel berlimpah torsi, kaki-kaki kokoh, dan penggerak 4 roda.

Toyota Fortuner Jadi Tonggak Sejarah SUV di Indonesia

Memasuki tahun 2000an, kondisi infrastruktur dan kebutuhan masyarakat Indonesia sudah jauh berkembang dari era 1970an, disaat Toyota Land Cruiser baru masuk ke sini. Pembangunan jalan dengan aspal mulus termasuk jalan tol mulai meluas di Indonesia, terutama di pulau Jawa. Meski begitu, di beberapa wilayah Indonesia masih terdapat medan yang membutuhkan kendaraan serbaguna dan tangguh untuk menunjang aktivitas, terutama kawasan yang memiliki area perkebunan dan pertambangan.

Melihat adanya kebutuhan ini, Toyota Indonesia berkomitmen untuk menjawab kebutuhan masyarakat dengan menghadirkan produk SUV yang sesuai. Modalnya tentu DNA Land Cruiser sebagai penjelajah di segala medan jalan. Namun, untuk mengikuti trend dan kebutuhan konsumen, beberapa sektor pada SUV perlu disesuaikan. Seperti, daya angkut yang wajib besar terkait kebutuhan aktivitas di segala aspek kehidupan dengan kemampuan off-road mesti mumpuni tapi bisa beradaptasi dengan mudah saat melaju di jalan biasa karena akan dipakai di berbagai medan jalan.

Tahun 2005 menjadi salah satu tonggak sejarah SUV di Indonesia dengan lahirnya Toyota Fortuner. Adopsi penggerak 4 roda yang bisa diubah menjadi gerak roda belakang membuat Fortuner bisa mengikuti keinginan pemiliknya tanpa kendala. Fortuner juga termasuk yang mempopulerkan kabin 7 penumpang di segmen SUV yang membuatnya begitu diminati kaum perkotaan yang membutuhkan fungsionalitas tinggi. Di awal kemunculan, Fortuner dilengkapi mesin bensin 2.700 cc VVT-i bertenaga 160 PS dan torsi 246 Nm, serta opsi transmisi manual 5-speed dan otomatis 4-speed. Termasuk penggerak 4x4 yang bisa pindah ke 4x2 dengan mudah via tuas di sisi tuas transmisi.

Kedatangan Fortuner mendapatkan sambutan hangat di Indonesia. Buktinya, pada bulan September 2006, Fortuner mulai diproduksi secara Completely Knock Down (CKD) untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri dan tidak lagi diimpor utuh dari Thailand sebagai basis produksi. 

Selanjutnya pada tahun 2007, merupakan salah satu sejarah yang dicatat dengan tinta emas oleh Fortuner dimana Toyota kembali menurunkan salah satu DNA Land Cruiser yang legendaris dengan memasukkan opsi mesin diesel 2.500 cc turbo .

Kedatangan generasi kedua pada tahun 2016 mengundang antusiasme yang begitu besar dari masyarakat Indonesia. Generasi anyar ini tidak menanggalkan DNA generasi pertama dan datang dengan berbagai value tambahan, seperti adopsi fitur kenyamanan dan keselamatan terkini.

Lebih lanjut, Fortuner generasi kedua ini juga sudah disematkan fitur Engine Push Start Button yang memudahkan untuk mengaktifkan dan mematikan mesin. Pengemudi turut dimanjakan dengan Multi Information Display (MID) dengan layar TFT berukuran 4,2 inci yang modern. Selain tuas paddleshift, kenikmatan berkendara diperkuat dengan sematan mode berkendara yang terdiri atas pilihan mode Eco, Normal, dan Power. Model 4×4 untuk main off-road juga ditawarkan dengan fitur berlimpah seperti kontrol traksi, kontrol di jalan menurun, differential lock, trailer sway control, dan tambahan side & curtain shield airbags.[prm/timBX] berbagai sumber

Tags :

#
autonews,
#
toyota,
#
suv,
#
sejarah