

JAN 26, 2026@14:23 WIB | 58 Views
Ceruk modifikasi terus digali oleh para builders dalam rangka menghasilkan karya nan sustainable. Hal itu menjadi tantangan bagi para builder untuk terus berkarya agar tetap eksis, menghadapi gempuran part aftermarket dan brand pabrikan yang udah lahir dengan gaya custom. Gempuran motor Cina bergaya custom, seperti QJ motor, Benda, WMoto menjadi soal baru, terkait industri kustom di Indonesia.
Blackltalk kali ini mengundang dua narasumber yang sudah berkecimpung di dunia custom, untuk menggali trend informasi, bagaimana para builder dan modifikator ini bisa bertahan dengan industrinya yang berbasis UMKM.
Salah satunya Andre Tenardi dari Garasi 19, bengkel workshop berbasis Harley Davidson ini sudah malang melintang didunia modifikasi dalam dan luar negeri. Terakhir menjuarai first runner up Kastem Fest 2025 dengan gaya modifikasi Bagger.
Sementara, narasumber kedua kita mengundang narsum dari Iam Work Company, sang founder Iksan Adityo Mulyo. Modifikator dari Bekasi ini telah mengembangkan berbagai macam motor custom yang memang dibuat untuk kontes. Baru-baru ini membuat motor Harley Davidson bertema Speed Chopper yang memenangkan piala di Kustom Fest 2025.

Kedua builder ini sudah malang melintang di dunia kastem di luar negeri seperti Yokohama Hot Rod Custom Show, dan Moto Bike Expo di Verona.
Era kustomisasi motor boleh dibilang terus ada regenerasi. Ada part yang bisa dikustom, disisi lain juga ada part yang haram dikustom.
“Untuk di Harley Davidson misalnya, tangki menjadi cukup riskan untuk dikustom, karena memang cukup fragile, bisa jadi menghilangkan identitas dan kenyamanan. Hal itu kami hindari, tetapi fender, belly pad, adalah hal yang wajar,” buka, Andre Tenardi owner dari Garasi 19.
Modifikasi dengan gaya OEM Look bukan berarti mudah, karena semuanya kembali ke kultur masing-masing.
“Order part dari Amerika Serikat itu bisa cukup lama. Karena regulasi dan shipping kadang 4-5 bulan. Itu karena Harley Davidson kiblat modifikasinya masih ke Amerika. Di Garasi 19 itu lebih sebagai modifikator atau dalam tanda kutip konsultan,” tambah Andre.
Memang patut digarisbawahi, modifkasi mengarah ke ranah original OEM Look dan fully custom. Artinya setiap builder punya pengalaman panjang dalam membangun motor kustomernya.
"Dengan senang hati, project apapun sebenarnya kita terima. Spesialis kita di Harley Davidson, namun untuk brand sekelasnya seperti BMW dan Triumph, kita masih oke. Tapi diluar project khusus, sebenarnya kita lebih banyak menerima modif oem, " cetus Andre.
Ergonomi sebuah motor tetap menjadi perhatian dalam modifikasi. Seandainya customer minta pasang Ape Hanger, tentunya tetap diukur bagaimana sisi kenyamanan si rider.
Sementara gaya berkendara ala HD V-ROD bermesin 1250 cc boleh dibilang pernah hype, namun dalam perkembangannya mulai ditinggalkan, karena output tenaganya terlalu kencang, dan menyerupai serta suara Ducati.
"Harley Davidson di Australia cukup famous, tetapi di Indonesia ga terlalu," terangnya.
Berbeda dengan pengalaman Iksan Adityo Mulyo misalnya builder dari iamworks Company punya cara pandang yang cukup unik. Pasalnya workshop ini punya ruang eksplorasi yang lebih luas.
"Misal seorang customer datang dengan bawa desain, ya desain itu kemudian disempurnakan dengan 3D desain, menggunakan AI atau referensi builder lain. Diskusi lebih matangnya mempertemukan antara builder utama dan customer, selain mereka berdua, ada desainer yang berperan," terang Iksan mengakali bisikan yang bisa merubah orientasi modifikasi.
Proses kustomisasi itu idealnya bertarung di progres-progres awal. "Apalagi saat masuk desain 3D, untuk mengiprovisasi desain itu butuh waktu 1 minggu. Kalau ada revisi, ya bisa butuh waktu seminggu lagi. Kalau totalnya bisa 1,5 bulan," tambah Iksan.
BMW R9T Enak Banget Dimodifikasi
Salah satu motor BMW yang lebih ke fashion adalah BMW R9T. Menurut Andre, modifikasinya bisa dimulai dari velg, handle bar, sein, hingga jok. "Kalau secara value memang brand BMW R9T emang aftermarketnya juga mahal."

Secara basic, Garasi 19 lahir dari pengalaman Andre mengumpulkan customer pemilik Harley Davidson Forty Eight. Kemudian diperkenalkan modifikasi dengan part yang memang belum banyak dikenal oleh two wheelers enthusiast. Modifikasi Forty Eight memang cenderung ke bobber, dan terbilang cukup sempit, terhadap ranah modifikasi yang dikembangkan.
"Potong fender belakang, ganti velg, ganti ban tapak lebar, patternnya cukup terbatas. Garasi 19 berangkat dari pengalaman dari Forty Eight. Termasuk painting kustom, paling cepat modifikasi bisa 1 bulan. Selain itu proses paling lama bisa 1 tahun, " tambahnya.
Iamwork Company Lahir Sebagai Sport Kastem
Karya terbarunya speed chopper hasil kolaborasi antara iamwork company dengan Queenleka Chopper, Yogyakarta. Gaya modifikasinya lebih ke ranah sport namun dengan basic Chopper. Dan dari sisi performance didukung dengan turbo dari mobil, yang dipasangkan ke motor Harley Davidson.

Terkait maraknya para artis dan influencer yang juga main motor Harley Davidson dan motor custom, apakah memberikan efek ke market. "Paling mentok di awareness untuk masyarakat umum. Sementara builder sudah punya pakem sendiri, antara sport caferacer dengan sport chopper itu sudah menjadi kiblat workshop custom sendiri, pakem tersebut paling tidak butuh kolaborasi dengan workshop tersebut," terang Iksan yang memanfaatkan social media sebagai cara menginfluence.
Wadah Pamer : Kustom Fest, Indonesia Custom Show dan Custom War
"Secara pribadi saya ga mau komparasi ketiga event tersebut, karena masing-masing punya karakter tersendiri. Kebetulan tahun ini saya datang ke tiga event mulai dari Indonesia Custom Show, Kustom Fest hingga Custom War Bali. Secara size Custom War gede banget dengan crowd yang begitu ramai, ada dragbike tapi di pantai. Mostly para peserta memang build from scretch," terang Andre.
Sementara di Honda Modification Contest lebih pada motor-motor ringan, ada regulasi yang tidak boleh merubah bagian tertentu dari motor. Sementara sisi custom 3 event tersebut sudah cukup padat. "Kalau sampai ditambah 1 event lagi, mungkin builder malah bikin bingung soal timing pengerjaan. Kalau event makin ramai, motor custom jadi ga fresh, kalau berulang-ulang konsepnya," cetus Iksan. [Ahs/timBX]