

JUN 29, 2026@11:00 WIB | 81 Views

Obsession bukan sekadar film horor psikologis yang mengandalkan unsur supranatural untuk membuat penonton gelisah. Di balik ritual dedalu dan atmosfernya yang perlahan mencekik, film garapan Curry Barker justru membedah sisi paling gelap dari sebuah hubungan. Ketika cinta berubah menjadi obsesi, lalu obsesi berkembang menjadi hasrat untuk memiliki seseorang sepenuhnya.
Bear bukan karakter Menakutkan, Tapi Mengerikan!

Bear bukan karakter yang menakutkan karena ia menggunakan ritual mistis. Ia menjadi mengerikan karena menganggap kehendak bebas Nikki sebagai sesuatu yang bisa dihilangkan demi memenuhi keinginannya sendiri. Dedalu dalam film ini hanyalah medium. Monster sesungguhnya adalah manusia yang rela mengorbankan moral, logika, bahkan kebebasan orang lain demi mendapatkan cinta yang ia anggap sebagai hak miliknya.
Inilah yang membuat Obsession terasa berbeda dibandingkan banyak film horor modern. Film ini tidak sibuk menghadirkan jumpscare atau sosok makhluk gaib. Sebaliknya, Curry Barker membangun ketakutan melalui kenyataan bahwa ancaman terbesar justru berasal dari manusia yang kehilangan batas antara mencintai dan menguasai.
Obsession menelanjangi Posesif dan Toxic Relationship

Pada akhirnya, Obsession seperti sedang menelanjangi bentuk obsesi yang sering bersembunyi di balik dalih cinta. Film ini memperlihatkan bagaimana seorang laki-laki dapat memandang perempuan bukan lagi sebagai individu yang memiliki kehendak bebas, melainkan sebagai sosok yang harus selalu berada di bawah kendalinya. Ketika relasi berubah menjadi kepemilikan, maka horor yang lahir terasa jauh lebih nyata daripada sekadar kehadiran hantu.
Mungkin karena itulah Obsession meninggalkan rasa tidak nyaman yang bertahan lama setelah kredit penutup bergulir. Film ini tidak membuat penonton takut pulang ke rumah, tetapi membuat kita mempertanyakan seberapa tipis batas antara cinta, obsesi, dan keinginan untuk mengendalikan seseorang.[Adi/TimBX]