

JUN 03, 2026@10:00 WIB | 151 Views

Nama Masters of the Universe tentu bukan sesuatu yang asing bagi generasi yang tumbuh di era 80-an hingga 90-an. Setelah sempat hadir dalam bentuk serial animasi dan film live action yang dibintangi Dolph Lundgren, kini kisah He-Man kembali dihidupkan oleh Amazon MGM Studios dan Sony Pictures dalam versi yang lebih modern.
Menariknya, film ini tidak berusaha meninggalkan akar ceritanya. Sebaliknya, Masters of the Universe justru merangkul elemen-elemen klasik yang selama ini dicintai penggemar, sambil menyesuaikannya dengan selera penonton masa kini. Hasilnya adalah sebuah film petualangan fantasi yang terasa akrab sekaligus segar. Inilah Review Masters of the Universe.
Menghormati Materi Klasik Tanpa Terjebak Nostalgia

Kekuatan terbesar film ini terletak pada bagaimana cerita klasik Masters of the Universe diterjemahkan kembali untuk generasi baru. Banyak elemen dari serial animasi maupun film live action terdahulu yang masih dipertahankan, tetapi disajikan dengan pendekatan yang lebih modern dan mudah diterima penonton saat ini.
Dengan durasi yang mendekati dua setengah jam, film ini memiliki ruang yang cukup untuk membangun dunia Eternia sekaligus memperkenalkan karakter-karakter utamanya. Penonton tidak langsung dilempar ke dalam konflik besar, melainkan diajak memahami terlebih dahulu siapa sebenarnya Adam sebelum ia menjadi He-Man.
Film ini menampilkan Adam sebagai sosok yang masih mencari jati dirinya. Ia sering dianggap berkhayal dan tidak dipercaya oleh orang-orang di sekitarnya. Pendekatan tersebut membuat perjalanan karakternya terasa lebih manusiawi dan memberikan fondasi yang kuat ketika akhirnya ia menerima takdir sebagai pahlawan Eternia.
Menariknya lagi, film ini tidak hanya berfokus pada He-Man. Banyak karakter lain mendapatkan porsi yang cukup untuk berkembang, termasuk Skeletor yang tampil jauh lebih aktif dibandingkan yang mungkin dibayangkan banyak penggemar. Interaksi antar karakter inilah yang membuat film terasa ringan, menghibur, dan penuh humor sepanjang durasinya.
Nicholas Galitzine Tampil Meyakinkan Sebagai He-Man
Salah satu kejutan terbesar film ini adalah penampilan Nicholas Galitzine sebagai Adam sekaligus He-Man. Ia berhasil menghadirkan karakter yang karismatik tanpa kehilangan sisi konyol dan keras kepala yang membuatnya terasa dekat dengan penonton.
Perjalanan Adam dari sosok yang diragukan banyak orang hingga menjadi pahlawan Eternia terasa cukup meyakinkan. Galitzine mampu menampilkan sisi rapuh karakter tersebut sekaligus menghadirkan energi yang dibutuhkan ketika akhirnya berubah menjadi He-Man.
Di sisi lain, Idris Elba juga tampil solid sebagai Man-At-Arms. Karakternya berfungsi sebagai mentor yang membimbing sekaligus menjadi figur pelindung bagi Teela dan para pejuang Eternia lainnya. Kehadirannya memberikan keseimbangan di tengah berbagai adegan aksi dan komedi yang mendominasi film.
Namun perhatian terbesar tetap tertuju pada Jared Leto sebagai Skeletor. Dengan gaya yang teatrikal, penuh percaya diri, dan sesekali kocak, ia berhasil menghadirkan versi Skeletor yang terasa dekat dengan karakter ikonik dari animasi klasik. Penampilannya menjadi salah satu elemen yang paling menghibur sepanjang film berlangsung.
Visual Cerah yang Menjadi Pembeda

Di saat banyak film superhero modern memilih pendekatan visual yang gelap dan serius, Masters of the Universe justru mengambil arah yang berbeda. Film ini tampil penuh warna dengan desain dunia fantasi yang terasa hidup.
Eternia digambarkan sebagai dunia yang megah dengan berbagai elemen visual yang mengingatkan pada versi animasi klasiknya. Mulai dari desain kostum, senjata, hingga berbagai lokasi ikonik, semuanya berhasil menghadirkan nuansa petualangan fantasi yang menyenangkan untuk ditonton.
Pilihan visual tersebut membuat film ini terasa lebih ramah bagi berbagai kelompok usia. Anak-anak bisa menikmati petualangannya, sementara penonton dewasa mendapatkan bonus berupa nostalgia terhadap waralaba yang telah mereka kenal sejak lama.
Kesimpulan

Masters of the Universe mungkin tidak menawarkan cerita yang revolusioner. Namun film ini memahami apa yang membuat waralaba He-Man begitu dicintai selama puluhan tahun. Dengan kombinasi humor yang ringan, karakter-karakter yang kuat, visual yang penuh warna, serta penghormatan terhadap materi sumbernya, film ini berhasil menjadi tontonan yang menghibur dari awal hingga akhir.
Bagi penggemar lama, film ini menghadirkan nostalgia yang menyenangkan. Sementara bagi penonton baru, Masters of the Universe menjadi pintu masuk yang cukup ramah untuk mengenal dunia Eternia dan para penghuninya. [Adi/TimBX]