MENU
icon label
image label
blacklogo

Afeela Sony-Honda Resmi Dimatikan! Terlalu Canggih atau Terlalu Mahal?

MAR 26, 2026@12:09 WIB | 68 Views

Mobil listrik (EV) Afeela sempat menggemparkan industri otomotif global pada debutnya pada 2023 lalu. Namun, sayangnya di awal 2026, proyek kolaborasi Sony Group dan Honda Motor tersebut resmi dimatikan.

Nama Afeela langsung mendapat sorotan dunia pada penampilan perdananya di ajang Consumer Electronics Show (CES) di Las Vegas pada 4 Januari 2023.

Debutnya ini, semakin menjadi sorotan karena prototipe sedan listrik itu ditampilkan dengan teknologi canggih seperti memiliki 45 sensor dan terpasang fitur hiburan berupa konsol PS5 di kabinnya.

Nama Afeela semakin viral setahun kemudian di ajang CES edisi 2024. Perusahaan patungan Sony Honda Mobility (SHM) kali ini memamerkan versi prototipe yang lebih matang (mendekati versi produksi).

Momen ikonik terjadi saat CEO SHM, Izumi Kawanishi, mengemudikan mobil tersebut ke atas panggung menggunakan stik PS5 (DualSense controller) untuk menunjukkan kecanggihan integrasi software-nya.

Namun, kabar mengejutkan datang di tahun 2026. Proyek yang sudah mencapai tahap prototipe matang ini dilaporkan resmi dihentikan. 

Mengapa kolaborasi impian ini layu sebelum berkembang? Apakah teknologinya yang terlalu ambisius, ataukah harganya yang melampaui logika pasar? Ini alasannya:

1. Dilema Teknologi: Over-Engineering yang Mematikan

Dirancang dengan lebih dari 45 sensor (termasuk Lidar dan kamera canggih) dan kemampuan komputasi setara superkomputer untuk menjalankan cloud gaming dan otonom Level 3.

Masalahnya, mengintegrasikan teknologi consumer electronics yang siklusnya cepat ke dalam manufaktur mobil yang siklusnya lambat menciptakan kerumitan luar biasa. 

Banyak analis menilai Afeela mengalami "Over-Engineering"—menanamkan fitur-fitur yang keren di atas kertas, namun sangat sulit (dan mahal) untuk diproduksi secara massal dengan standar keamanan otomotif yang ketat.

2. Perangkap Harga: Sulit Bersaing dengan Dominasi Tiongkok

Di tengah "perang harga" EV global yang dipimpin oleh BYD dan Xiaomi, Afeela berada di posisi yang sulit. 

Untuk menutupi biaya riset sensor Sony dan platform Honda, harga jual Afeela diprediksi akan menyentuh angka mobil mewah (miliaran rupiah).

Sementara itu, kompetitor seperti Xiaomi SU7 berhasil membuktikan bahwa mereka bisa memberikan teknologi serupa dengan harga yang jauh lebih masuk akal. 

Afeela terjepit di tengah: terlalu mahal untuk menjadi mobil massal, namun kurang memiliki heritage untuk melawan merek luxury tradisional seperti Porsche atau Mercedes-Benz.

3. Pivot Strategis: Software Lebih Menguntungkan daripada Hardware

Kematian Afeela disinyalir bukan karena kegagalan total, melainkan pergeseran fokus (pivot). Sony menyadari bahwa menjadi produsen mobil fisik memiliki risiko finansial yang masif.

Rumor kuat menyebutkan bahwa Sony lebih memilih menjadi penyedia ekosistem (OS mobil, sensor, dan hiburan) untuk berbagai pabrikan dunia, daripada harus mengelola pabrik mobil sendiri. 

Bagi Honda, pembatalan ini juga memberikan ruang bernapas untuk fokus pada pengembangan platform EV mandiri yang lebih ekonomis. [wic/timBX]

Tags :

#
afeela,
#
sony,
#
honda,
#
sony honda,
#
afeela ev,
#
ev pintar afeela,
#
afeela gagal produksi