

MAY 13, 2026@14:34 WIB | 74 Views
Suzuki Swift menjadi salah satu model hatchback paling populer di dunia. Seperti yang kita ketahui, Suzuki Swift sekarang diproduksi olej Maruti Suzuki, yang sudah menggunakan berbagai macam power train seperti N/A Petrol, Turbo Petrol, Diesel, Mild Hybrid dan CNG bergantung pada pesanan market. Sementara varian terbaru, Suzuki Swift telah menggunakan mesin hydrogen dipamerkan di 2026 Vienna Motor Symposium.
Alih-alih isu bahwa hydrogen lebih mudah terbakar, Suzuki Motor Corporation bekerjasama dengan perusahaan teknologi mobil AVL, yang beralamat di 15 North Merrimon Avenue Asheville, NC 28804, Carolina Utara, USA.

Suzuki menyebutnya sebagai Hydrogen DI Technology, yang memberikan terobosan bahwa mesin hydrogen ini tidak menghasilkan jelaga, dan dapat dioperasikan secara stoichiometric untuk membantu moderasi pembakaran melalui EGR yang didinginkan.
Salah satu karakter mesin hydrogen ini adalah typical lean approach. Namun selangkah lebih jauh, AVL dan Suzuki telah mengembangkan Hydrogen DI Technology yang dikalibrasi secara kering dan sensor Lambda parameternya menyesuaikan 1 stoichiometric mode pembakaran.
Itu artinya pada AFR (air fuel ratio) secara umum menggunakan 14,7 : 1, yang menggambarkan setiap 14,7 gram udara digunakan untuk pembakaran 1 gram bbm fosil.
Sementara Hyrdrogen punya AFR yang lebih padat 34,3 : 1 yang menandakan bahwa hydrogen lebih haus udara dibandingkan bbm fosil. Teknologi AVL berbasis Hydrogen DI Technology ini menggambarkan dimana mesin mampu menerima secara tepat jumlah udara yang dibutuhkan untuk membakar hydrogen secara sempurna.
Kinerja yang lebih baik dicapai dengan mode pembakaran Lambda=1 dengan keuntungan sekitar 10 kW dan 20 Nm, mengambil total proses tenaga mesin dan torsi menjadi 100 kW dan 220 Nm.

Teknologi AVL ini dimanifestasikan pada mesin hydrogen 4 silinder segaris 1400cc. Dengan kepadatan uddar yang lebih tinggi pada pembakaran Hydrogen, Lean approach dan Lambda = 1, terbilang cukup stabil dalam memberikan asupan serta sistem suplay udara menjadi solusi terhadap hydrogen.
Teknologi hydrogen Suzuki - AVL tentu menjadi jalan keluar dari teknologi Fuel Flex Ethanol 85% dan teknologi Suzuki Hybrid yang sudah diterapkan di industri otomotif di beberapa negara.
Tidak sedikit pula pakar otomotif yang menolak penggunaan Ethanol (Fuel Flex) dalam jumlah tinggi. Dengan kehadiran teknologi hidrogen cukup menjadi jalan tengah terhadap energi terbarukan yang sedang diuji terus efektifitas dalam mengurangi karbon.
Sebuah bandara internasional Cochin telah mendirikan stasiun hydrogen untuk operasional di Bandara hasil kerjasama dengan BPCL. Hal itu membuktikan betapa energi hijau menjadi solusi industri otomotif masa depan.
Cara kerja sistem AVL meliputi : Pertama, Hydrogen Direct Injection (DI): Hidrogen disemprotkan langsung ke dalam ruang bakar (bukan di saluran masuk). Ini sangat penting untuk mencegah fenomena backfire (ledakan balik ke saluran udara) yang sering menjadi kendala pada mesin hidrogen.
Kedua, Zero CO2 Vehicle: Karena hidrogen tidak mengandung unsur karbon (C), hasil pembakarannya tidak menghasilkan gas rumah kaca CO2, melainkan hanya uap air (H2O) dan sedikit NOx.
Ketiga, Hydrogen Fuel Rail & Injectors: Gambar pertama menunjukkan tata letak rel bahan bakar dan posisi injektor hidrogen yang dirancang khusus untuk menangani sifat gas hidrogen yang sangat ringan dan mudah terbakar. [Ahs/timBX]