

FEB 02, 2026@18:00 WIB | 49 Views
Roda tren otomotif selalu berputar, dan kali ini ia berhenti tepat di hadapan deretan motor matic lawas. Jika dulu motor-motor ini hanya dianggap sebagai "kendaraan harian" yang fungsional, kini di tangan para penggiat culture, motor-motor tersebut bertransformasi menjadi identitas gaya hidup yang sangat bernilai.

Dalam episode terbaru Black News, Bakti Perkasa berbincang hangat dengan jurnalis otomotif, Fariz Ibrahim, mengenai fenomena "Matic Kalcer" yang sedang menjamur. Apa sebenarnya yang membuat motor seperti Yamaha Mio dan Honda Spacy kembali naik daun?
Kekuatan Konsep di Atas Part Mewah
Fenomena kalcer (plesetan dari culture) membawa napas baru dalam dunia modifikasi. Berbeda dengan aliran kontes yang menuntut penggunaan komponen mahal, Matic Kalcer lebih mengedepankan harmoni dan cerita.
"Modifikasi ini nggak harus mahal. Yang penting konsepnya kuat," ujar Fariz. Ia menyoroti bagaimana penggunaan warna-warna pop art yang berani, dekal stiker yang unik, hingga pencocokan gaya motor dengan outfit pengendara menjadi poin utama. Motor bukan lagi sekadar alat transportasi, melainkan pelengkap estetika sang pemilik saat melakukan Sunday Morning Ride (Sunmori).
Yamaha Mio Sang Legenda yang "Digoreng"

Tidak bisa dipungkiri, Yamaha Mio generasi awal (seri 5TL) adalah raja di skena restorasi saat ini. Ada dua warna yang paling diincar: Kuning dan Biru Telur Asin. Kenapa harganya bisa melonjak drastis, bahkan ada yang menyentuh angka puluhan hingga seratus juta rupiah?
Desain Timeless: Desain Mio karbu dianggap sangat proporsional dan tidak lekang oleh waktu.
Part Melimpah: Dari komponen mesin balap hingga aksesoris estetika, suku cadang Mio tersedia dari kelas low-end hingga high-end.
Rangka "Besi": Fariz mencatat bahwa kualitas material rangka motor tahun 2000-an dirasa lebih tebal dan kokoh dibandingkan motor zaman sekarang yang sering kali terkena dampak cost reduction.
Honda Spacy: Dari "Motor Bapak" ke Gaya Eropa

Jika Mio adalah simbol kecepatan dan gaya anak muda, Honda Spacy hadir sebagai pilihan bagi mereka yang ingin tampil beda dan fungsional. Spacy mulai dilirik karena desainnya yang membulat—mirip dengan selera pasar Eropa atau Jepang (Honda Vision/Dio).
Spacy dianggap sebagai kanvas yang sangat fleksibel. "Mau dibikin gaya clean look, fungsional dengan boks pengantar barang ala Jepang, atau restorasi gaya Eropa, semuanya masuk di Spacy," tambah Fariz. Fleksibilitas desain ini membuatnya menjadi alternatif menarik bagi mereka yang bosan dengan tampilan motor matic modern yang terlalu tajam dan agresif.
Restorasi vs Modifikasi

Diskusi ini juga menyentuh aspek teknis, mulai dari tren penggunaan lampu Biled (Projector), velg CNC, hingga pemasangan fitur Keyless pada motor tua. Fariz menekankan bahwa meskipun motornya jadul, fungsionalitas dan keamanan tetap bisa ditingkatkan ke level modern.
Sebagai penutup, perdebatan menarik muncul: pilih Mio atau Spacy? Bakti Perkasa memilih Honda Spacy karena fungsionalitas bagasinya yang luas untuk menunjang mobilitas Jakarta, sementara Fariz Ibrahim tetap setia pada Yamaha Mio karena kebebasan kreativitas yang ditawarkan oleh melimpahnya suku cadang.
Kesimpulannya? Baik itu Mio "Tesa Kaunang" yang legendaris atau Spacy yang elegan, tren Matic Kalcer membuktikan bahwa motor tua punya jiwa yang sulit digantikan oleh motor keluaran terbaru.
Tertarik untuk mulai merestorasi matic lawas kalian? Simak ulasan lengkapnya di bawah ini!