

MAY 02, 2026@20:00 WIB | 52 Views

Di lintasan lurus 201 meter, tidak ada ruang untuk kebetulan. Semua yang terlihat cepat di Black Drag Race 2026, Sabtu (2/5), adalah hasil dari satu hal, racikan mesin dan juga transmisi dan kaki-kaki beserta ban menentukan semuanya. Hasilnya adalah sebuah catatan waktu tercepat di Trek lurus.
Sebenarnya bukan sekedar tenaga saja. Melainkan, bagaimana tim itu bisa membaca karater mobil serta bisa maksimalkan semua yang ada. Mulai dari ECU sampai distribusi bobot, semua ini bakalan bisa hasilkan time bracket yang maksimal bukan?
Dan di event ini, semua tim punya pendekatan berbeda dalam hal treatment mobil untuk melaju di trek lurus. baik tim besar maupun tim kecil, sama-sama punya cara berbeda namun selalu saja sama-sama efektif. Seperti Tim El Garage, mereka sendiri bisa hasilkan catatan waktu terbaik dengan berbagai macam parts dan sebagian adalah buatan lokal.
El Garage pakai rumus modifikasi harian dan parts lokal

Nama El Garage bukan yang paling berisik, tapi performanya konsisten berbicara. Diperkuat oleh Winel, Sandos, Ryan, Ivan, dan Bram, tim ini datang dengan pendekatan “paket lengkap”. Bahkan sampai mereka turunkan beberapa mobil terutama Fortuner sebagai mobil andalan mereka.
Namun, satu yang menarik adalah bagaimana mobil Drag mereka bukan masuk level FFA atau sudah pakai tubular. melainkan hanya mobil harian yang beneran bisa masuk ke kelas bracket 9 detik dan 9.5 Detik! Salah satunya adalah Fatah Yuda, dari El Garage.
“Main dua kelas, 9 sama 9,5. Saya yang bawa 9,5, teman saya yang 9,” jelas Fatah. Dari penjelasannya saja, main dua kelas itu saja butuh namanya spesifikasi tingkat tinggi. Dan spek yang Fatah pakai seperti Turbo dan lain-lain sudah iya pakai dari model Flex.
"Gua pakai Greedy F55 Turbo terus Intercooler pakai Flex dari Thailand. Terus ATF Cooler pakai Flex juga dan Piping pakai dari Proline dan Knalpot dari Alpino." ujar Fatah. Sedangkan upgrade eksternal dan internal pun juga dapat upgrade eksternal plus ECU tambahan untuk buka limiter mesin.
Sedangkan Alpino sendiri merupakan produk lokal dan utama dari El Garage. Seluruh mobil mereka pun gunakan produk ini. Menurut Winel, Alpino sendiri merupakan produk lokal dengan racikan paling mudah untuk mereka oprek.
Dan itu terbukti dengan tenaga yang mereka hasilkan itu jauh dari ekspektasi mereka. Untuk Fortuner sendiri mereka bisa hasilkan tenaga hingga 25 daya kuda dari tenaga aslinya. Malah produk Alpino sendiri merupakan produk buatan lokal Asal Purbalingga. Serta sudah tembus produksi mencapai 5.000 unit, sebuah pencapaian dari sebuah produk lokal aftermarket yang mulai terkenal saat ini.
Bagaimana dengan tim lainnya? Dari SeaTeam 59 tidak bisa pandang remeh.
SeaTeam 59, Ketika Diesel Tidak Lagi Dipandang Sebelah Mata

Kalau El Garage bermain luas, SeaTeam 59 Gresik justru fokus ke mesin diesel. Dengan memilih bermain di kelas Diesel. Dengan target menjadi yang terbaik di kelas Diesel Drag memungkinkan fokus tersebut bisa meraih podium.
Justru keunikannya adalah bagaimana pendekatan mereka di kelas ini cukup bermodalkan remap dan EGR saja. “Target kita itu ada di Bracket 10–11 detik kita masih pakai standar. Remap sama EGR sudah sudah cukup.” ucap Candra, Manager SeaTeam.

Tetapi, jangan salah dulu! Begitu turun ke Bracket time lebih rendah, mereka langsung naikkan level modifikasi mesin mereka. Dengan upgrade intercoller, optimasi udara yang masuk dan tuning jadi pondasi utama untuk memenangkan bracket time di bawahnya.
Dan salah satu contohnya adalah Hilux mereka tembus di angka 6.6 detik! Dan itu satu-satunya di Indonesia. "Hilux yang mereka garap mencatat 6,6 detik di 201 meter. Sebuah pencapaian terbesar meskipun mobil ini tidak turun di Black Drag Race. Tetapi, ada satu yang menarik perhatian adalah hal sekecil itu bisa berpengaruh ke hasilnya lho.
Brislow, Hal kecil namun berdampak besar!

Berbekal Fortuner dengan mesin 2KD, tim ini bisa membuat mobil mereka bisa pakai untuk harian dan balap. Bahkan mesin diesel sesimpel dan tanpa banyak sensor seperti 2KD adalah pilihan bagi tim Brislow. Moi dan Joshua, kedua orang ini merupakan bagian dari Brislow dengan Moi sebagai mekanik dan Joshua adalah Dragster sekaligus pemilik tim.
Mereka turun di Bracket 9 - 9,5 detik dan 11 Detik. Namun modal mereka sendiri beneran berbeda sekali dari tim lainnya. "Kita remap di Tangerang dan kebetulan bisa remap di Semarang. Terus baru naik Turbo dan Intercooler dan tuning ulang lagi." ujar Joshua.
Tapi di Brislow sendiri memang sekaligus pemasangan di bengkel mereka. Sedangkan custom pipa dan penyetelan pun harus di bengkel lainnya. Terus Turbo sendiri ganti ke R31, Noozle di dalam dan intercooler sama ATF Cooler pakai Flex. "Kita Cooler pakai Flex semua." ucapnya.
Kemudian, Stroker Solar sendiri terpasang di akhir supaya memudahkan pemasangan. Dan Transmisi upgrade ke GoTrans. "Kita cuma ubah Transmisi dari GoTrans untuk Body Valve dan Carter saja." Dari situlah banyak yang pakai untuk mengakali pergantian transmisi delay sama sekali. "Kita bongkar semua dan pasang GoTrans serta sesuaikan dengan penggunaan."
Dan memang saat penggunaan untuk Drag Race terutama di Boost tinggi pun akan selalu kalah. "Jadi kalau boost 3.5 Bar sendiri bikin seal klep diesel pasti kalah." ucapnya. [Adi/TimBX]