MENU
icon label
image label
blacklogo

Arti Warna Biru di Logo Mobil Hybrid Toyota [Bag.2]

JUN 29, 2020@10:00 WIB | 314 Views

Di mulai tahun 1993, saat diskusi internal Toyota terkait kendaraan abad ke-21 kian intensif dan mengarahkan pengembangan pada Toyota Prius. Saat itu, G21 Project diluncurkan sebagai sarana untuk mempromosikan pengembangan teknologi dan upaya mencari terobosan dalam hal efisiensi bahan bakar menyongsong abad ke-21.

Toyota Prius Gen-1 (1997)

Toyota Prius generasi pertama diluncurkan di bulan Oktober 1997 sebagai kendaraan penumpang hybrid produksi massal pertama di dunia. Dengan bodi kompak untuk kendaraan elektrifikasi perkotaan, Prius memiliki level efisiensi bahan bakar 28 km/liter dalam siklus uji 10-15 Jepang. Prius berhasil mencapai target yang ditetapkan terkait konsumsi bensin irit dan emisi gas buang rendah.

Prius tesebut dilengkapi dengan mesin bensin 1.5 liter VVT-i Atkinson-Cycle bertenaga 58 PS pada 4.000 rpm dan motor listrik yang diatur oleh sistem berlabel Toyota Hybrid System (THS). THS secara optimal menyeimbangkan kekuatan mesin dan motor listrik agar sesuai dengan kondisi berkendara. Prius secara signifikan mengurangi kehilangan energi melalui mekanisme mematikan mesin saat idle dan sistem pengereman regeneratif untuk mengubah energi kinetik menjadi energi listrik ketika deselerasi.

Baca Juga: Arti Warna Biru di Logo Mobil Hybrid Toyota [Bag.1]

Ketika ekspornya dimulai pada tahun 2000, Prius menarik perhatian konsumen Amerika yang peduli lingkungan, bahkan dipakai para selebriti yang menimbulkan fenomena sosial. Toyota Prius Gen-1 memenangkan “The 1997 New Car of the Year Japan” dan “The 1997-1998 Car of the Year Japan”.

Prinsip Kerja Mobil Hybrid Toyota

Toyota terus berupaya untuk mengembangkan kendaraan elektrifikasi. Mobil hybrid Toyota mengandalkan sistem yang diberi nama Hybrid Synergy Drive (HSD). Terdiri atas beberapa komponen utama, yaitu motor pembakaran, motor listrik, generator listrik, Power Control Unit, dan Power Split Device (PSD) yang menggunakan gearbox khusus bertugas membagi distribusi tenaga dari motor bakar, motor listrik, dan generator listrik.

Sebagai sebuah sistem utuh, HSD menggunakan teknologi penghematan konsumsi bensin yang secara halus dan tanpa jeda berpindah antara penggerak motor pembakaran dan motor listrik, bahkan menggabungkan keduanya saat dibutuhkan. Sanggup beradaptasi pada berbagai kondisi berkendara, HSD mengendalikan tenaga dari kedua sumber daya dan menginstruksikan mobil untuk menyinergikan keduanya guna memperoleh efisien dan performa terbaik.

Secara singkat, motor bakar tidak akan aktif ketika mobil berhenti, seperti di lampu merah, selama kapasitas baterai belum waktunya diisi ulang. Dalam kondisi macet perkotaan, kebiasaan ini memastikan mobil hybrid Toyota sanggup menghemat bensin dalam jumlah yang besar. Saat mulai akselerasi, motor elektrik masih memegang peran untuk menjalankan mobil hingga kecepatan menengah.

Ketika akselerasi penuh atau menghadapi beban berat seperti jalan menanjak, secara otomatis motor bakar dan motor listrik bahu-membahu menyalurkan tenaga seoptimal mungkin sehingga tidak perlu menguras bensin terlalu banyak. Saat berlari konstan seperti di jalan tol, kedua motor penggerak kembali bersinergi menggerakkan roda. Bila tenaga dari motor listrik dirasa berlebih, akan disalurkan untuk mengisi daya baterai. Menariknya, saat pengereman, motor listrik dialihfungsikan untuk membangkitkan tenaga listrik dari tenaga kinetik rem guna mengisi daya baterai.

Toyota Prius Gen-4 yang pertama hadir di tahun 2015 mencatat konsumsi BBM seirit 37,2 km/liter berdasarkan standar pengujian di Jepang. Bahkan di tipe E bisa mencapai 40,8 km/liter. Pun, kendaraan elektrifikasi diklaim lebih senyap sekitar 50% saat hanya menggunakan tenaga listrik serta emisi gas buang lebih rendah 60%. Alhasil, mobil jenis ini tetap nyaman, irit bensin, dan ramah lingkungan.[prm/timBX] artikel dan foto: berbagai sumber

Tags :

#
autonews,
#
toyota,
#
hybrid,
#
mobil listrik,
#
prius,
#
logo,
#
g21 project,
#
toyota prius