MENU
icon label
image label
blacklogo

Waspada! Berikut 5 Resiko Menggunakan Aplikasi Pay Later

SEP 30, 2019@16:40 WIB | 273 Views

Fitur pay later atau bayar kemudian kini menjadi tren dalam pembayaran digital belakangan ini. Berbagai perusahaan aplikasi besar berlomba-lomba mempromosikan kemudahan untuk fasilitas beli sekarang bayar belakangan yang dapat dipakai untuk travelling, pembelian makanan, transportasi hari-hari hingga banyak produk konsumsi lainnya. Fitur pay later sebenarnya dapat menjadi opsi lain yang lebih mudah dan nyaman bagi masyarakat dalam mengakses kartu kredit yang dalam pengajuannya harus melewati beberapa tahap yang tidak singkat, serta prosesnya bisa dilakukan langsung di ponsel pintar masing-masing.

Layanan ini tentunya memudahkan konsumen, namun jika kamu tidak berhati-hati, lilitan utang bakal menghantui. Grant Thornton, salah satu organisasi global terkemuka yang menyediakan jasa assurance, tax, dan advisory merangkum lima risiko penggunaan pay later yang perlu diketahui. Nah, sebelum kamu menggunakan aplikasi pay later, pahami dulu sejumlah risiko berikut.

1. Perilaku Konsumtif Berlebihan

Tanpa disadari dengan kemudahan untuk membeli sekarang bayar belakangan, memberikan dorongan impulsif dalam keputusan pembelian yang seringkali justru jatuh kepada barang-barang yang tidak diperlukan. Jangan lupa, pelaku usaha juga memiliki strategi melakukan promo untuk menghabiskan produk mereka yang tidak terlalu laku.

2. Biaya yang tidak disadari

Masyarakat terutama milenial sangat menyukai kecepatan dan kepraktisan, terkadang mereka tidak memahami berbagai biaya yang langsung aktif di saat mereka menggunakan fitur pay later seperti biaya subscription, biaya cicilan dan biaya lainnya yang dapat berbeda dari tiap aplikasi. Biaya ini sering kali memberatkan di saat tagihan datang.

3. Pengaturan keuangan terganggu Mudahnya

Pembelian fasilitas pay later dari berbagai aplikasi sering kali dapat mengganggu pengaturan keuangan pribadi dengan banyaknya cicilan yang datang. Dana yang disisihkan untuk membayar tagihan pay later juga dapat terpakai untuk keperluan tak terduga sewaktu-waktu sehingga menimbulkan risiko tidak mampu bayar yang tinggi.

4. Penunggakan yang berisiko pada BI checking

Melalui BI checking, lancar atau tidaknya pembayaran nasabah akan terlihat jelas. Jika terjadi tunggakan transaksi pada pay later, tagihan tersebut akan menyebabkan catatan reputasi kredit yang buruk, hal ini akan menyebabkan pengajuan kredit lain yang sifatnya lebih penting untuk digunakan seperti properti dan kendaraan memiliki risiko ditolak ke depannya.

5. Peretasan identitas

Bertransaksi via digital tak luput dari bahayanya peretasan yang mengintai. Meskipun setiap aplikasi tentu sudah menyiapkan keamanan tingkat tinggi untuk penggunanya, risiko para kriminal siber mempu menemukan cara meretas database di akun transaksi pengguna dan menggunakannya untuk hal-hal yang tidak bertanggung jawab tetap ada. Melihat banyaknya risiko yang mungkin timbul, perlu diimbangi juga dengan pemahaman masyarakat akan sisi positif pay later. Alexander Adrianto Tjahyadi, Audit and Assurance Partner Grant Thornton Indonesia berpendapat “Yang terlihat 'mudah' di permukaan belum tentu 'mudah' selamanya.”

Belanja dengan kartu kredit atau pay later sebenarnya bisa saja menguntungkan jika dipakai dengan penuh perhitungan. Jika tidak, akses utang yang mudah ini justru mendorong orang lebih konsumtif. Karena itu, perhitungkan dengan matang penggunaan kartu kredit atau pay later, agar tidak terbelit gunungan utang.[ech/hsn/timBX]

Tags :

#
aplikasi,
#
pay later,
#
blacktrend