MENU
icon label
image label
blacklogo

Demam Sepeda Kala Pandemi : Adab dan Regulasi

OCT 05, 2020@20:50 WIB | 135 Views

Mengarungi masa pandemi lebih dari setengah tahun 2020 banyak hal unik yang terjadi, hobi lawas yang naik lagi mulai dari layangan, ikan cupang, hingga olah raga sepeda yang entah dari segi mana munculnya. Hobi sepeda memang tak pernah hilang, kadang hanya meredup dan kini hype lagi.

Naik beberapa bulan setelah awal pandemi, hampir seluruh jenis sepeda turut tersenggol, mulai dari sepeda lipat, road bike, BMX, mountain bike, dan masih banyak lagi. Walau kini tak terlalu hype lagi, sepeda di Indonesia masih cukup ramai digemari. Apa yang membuat sepeda merebak lagi kemarin ? Bagaimana mengenai perkembangan regulasi yang sedang digodok oleh pemerintah ?

Boy Prabowo akan membahasnya dalam BlackTalks kali ini bersama narasumber Yura Tofan Samudra dari Santa Cruz Indonesia, dan Erik Krisnawan dari Nubee Rider yang cukup pengalaman dan paham dengan situasi persepedaan saat ini.

Membahas mengenai demam sepeda di Indonesia, Yura berpendapat jika hal ini dipicu dari pembatasan skala besar yang memaksa orang untuk tetap di rumah. Nah bagi sebagian besar orang yang rindu beraktifitas di luar tentu membutuhkan sarana penyaluran, alhasil bersepeda adalah salah satu jawabannya.

“Apalagi dengan adanya media sosial dimana banyak orang yang famous mulai bersepeda, disitulah digoreng dan jadi tren, terutama untuk sepeda-sepeda roda kecil itu ya,” ungkap Yura. Sedangkan menurut Erik, fenomena ini bisa tumbuh dengan adanya anjuran dari Bapak Presiden kita jauh sebelum pandemi dan juga anjuran dari WHO untuk olahraga yang aman, termasuk sepeda dan lari.

“Kalau lari atau bersepeda interaksi dengan orang lain bisa dibilang sangat minim, ibarat olahraga individual tidak seperti basket atau olahraga beregu lainnya,” ungkap Erik. Lebih jauh lagi tren ini juga berimbas pada kenaikan harga sepeda dan perlengkapannya, serta ketersediaannya. Mengenai hal ini Yura berpendapat, “Lepas dari digorengnya harga, keterbatasan produksi sepeda dan perlengkapannya dimana pabrik banyak yang tutup, juga jadi salah satu alasan melonjaknya harga. Tapi ya gitu orang Indonesia, kadang membeli dalam keadaan mau bukan mampu.”

Lalu, berbicara mengenai behavior bersepeda, terutama bagi yang baru terjun dan kerap meresahkan karena mengindahkan keselamatan berkendara maupun peraturan berlalu lintas, Yura melihatnya sebagai cerminan dirinya pada saat mulai main sepeda lebih dari sepuluh tahun lalu, dimana masih kurang kesadaran, dan masih labil.

Erik melihat orang-orang yang baru bersepeda ini harusnya mendapat bimbingan bukannya ditindak dengan keras sehingga tren yang sesungguhnya positif ini dapat lestari. “Jangan sampai begitu mereka main dan berbuat kurang tepat lalu kita peringatkan dengan keras dan berujung kapok bermain sepeda.”

Selanjutnya membahas fenomena seli atau sepeda lipat yang jadi awal tren sepeda di Indonesia, banyak yang berpendapat jika sepeda jenis ini fix kurang dapat diatur geometrinya sehingga kurang dapat menyesuaikan postur pengendara. Hal ini diamini oleh Yura, dimana custom sepeda jenis ini cukup terbatas dengan mengganti part saja yang lebih sesuai, namun menurutnya sepeda ini memang dibuat bukan spesifik untuk satu fungsi dan satu segmen pengendara saja, jadi cukup fair.

Nah, berbicara mengenai regulasi, kabarnya sepeda diwacanakan bisa masuk ke jalan tol dan juga membayar pajak. Terkait untuk bisa masuk jalan tol, Erik dan Yura sepakat untuk menolaknya mengingat bahaya yang dapat ditimbulkan. Sedangkan jika pajak sepeda harus diterapkan, Yura dan Erik pun senada setuju selama tidak memberatkan. “Ya tinggal diatur aja, bagaimana yang tepat, kita yakin kok kalau masyarakat sepeda taat hukum, tentu saja harus tepat sasaran,” tutup Yura. [leo/timBX]

Tags :

#
blacktalks,
#
sepeda