MENU
icon label
image label
blacklogo

Facebook Masih Kesulitan Tangani Kelompok Cyber Crime

APR 08, 2019@18:00 WIB | 247 Views

Kasus pemalsuan, pencuri identitas, spammer, dan scammer serta penyebaran berita bohong atau hoaks masih saja terus terjadi, terutama di media sosial Facebook. Para pelaku melalui media populer tersebut untuk melakukan kejahatan tersebut bahkan sampai menjajakan layanan mereka meskipun pihak Facebook berusaha keras mencegah melalui sistem tindakan kerasnya tahun lalu. Ya, hal tersebut dilansir berdasarkan laporan yang dibuat Divisi riset cyber security Talos Cisco.

Talos Cisco baru-baru ini mengatakan bahwa mereka menemukan lusinan grup Facebook yang masih banyak beroperasi untuk melakukan tindakan cyber crime mereka, baik itu itu secara legal maupun ilegal berdasarkan undang-undang ITE. Ini juga banyak terjadi di banyak negara, termasuk Indonesia.  Banyak pihak yang mengeluh akan tindakan mereka yang cukup bisa meresahkan masyarakat. Namun Facebook saat ini cuma berusaha menutup beberapa akun grup yang terdeteksi tindakan kejahatan cyber menurut penilaian algoritma yang kini ada dalam sistem aplikasi mereka. Lalu bagaimana dengan polisi?

Sama halnya di beberapa bagian negara, terutama Indonesia, Kepolisian Indonesia juga nampaknya juga kewalahan dalam upaya pencegahan akan masih berkembangnya cyber crime. Jadi, kebanyakan masalah ini akan kembali pada Facebook pusat dan pihak polisi hanya berusaha membantu dengan sistemnya sendiri yang berlaku undang-undangnya di masing-masing negara. Dengan kata lain, soal kelompok cyber yang positiflah yang akan mulai bergerak melawannya. Ya, nampaknya hal ini bergantung pada komunitas ini untuk menjadi “polisi sendiri" di dunia maya.

Dan Talos Cisco telah menyoroti 74 grup dengan total 385.000 anggota, yang terdeteksi memiliki potensi besar dalam melakukan cybercrime. Pengguna Facebook dapat mencari grup dengan mencari kata kunci, termasuk ‘spam’ atau ‘carding’ dan Talos Cisco mengatakan bahwa jika pengguna bergabung dengan satu, Facebook akan secara otomatis merekomendasikan grup terkait - "membuat ‘hangout’ kriminal baru lebih mudah ditemukan".

Beberapa anggota mengiklankan nomor kartu kredit curian dengan mem-posting surat izin mengemudi sang korban, dan yang lain mem-posting permintaan untuk membantu mentransfer sejumlah besar uang atau mendapatkan akses ke jaringan komputer. Beberapa penjual tampaknya hanya menipu pembeli, tidak menawarkan layanan nyata dan bahkan hanya sekedar menyebar berita bohong yang meresahkan. Namun Talos Cisco menautkan beberapa pos dengan spam yang nyata atau kampanye phishing.

Facebook memang telah memiliki masalah jangka panjang dengan kejahatan dunia maya. Pada tahun 2018 lalu, peneliti keamanan Facebook, Brian Krebs menemukan 120 kelompok pribadi dengan 300.000 anggota yang menawarkan botnet, pengembalian pajak yang curang, dan layanan ilegal lainnya. Facebook segera menghapus grup itu usai diperingatkan. Tetapi peneliti lain, Justin Shafer, memperingatkan bahwa hal tersebut tidak berdampak ‘jera’, malahan banyak diantaranya telah beroperasi selama bertahun-tahun. Talos Cisco mengatakan menemukan beberapa operasi baru dengan nama yang "sangat mirip" dengan yang ada di daftar Brian Krebs.

Facebook memklaim bahwa telah menghapus grup tersebut setelah Talos Cisco mengeksposnya, dan pihaknya terus mencari grup atau akun terkait. “Kelompok-kelompok ini melanggar kebijakan kami terhadap spam dan penipuan finansial dan kami menghapusnya. Kami tahu kami harus lebih waspada dan kami berinvestasi besar-besaran untuk melawan jenis aktivitas ini, "kata seorang juru bicara Facebook.

Facebook memiliki lebih dari 2 miliar pengguna, dan tidak mengherankan bahwa penjahat akan mencoba menarik pelanggan di sana.Dan peluang kejahatan masih ada. Jadi, jangan heran, bila masih banyak orang-orang yang tak bertanggungjawab masih melakukan aksi cyber crime lewat akun Facebook pribadi atau grupnya. Jadi, di sinilah peran kita sebagai pengguna Facebook untuk berjati-hati agar cyber crime tidak terjadi pada kita, keluarga maupun orang-orang terdekat kita.

Tags :

#
facebook,
#
cyber crime